top of page

Perspektif Orang Pesimistik : Penjelasan

  • Writer: pereka
    pereka
  • Aug 29, 2019
  • 3 min read

Updated: Apr 22, 2020

Kita sudah menginjak minggu terakhir bulan Agustus, dan gue senang bisa melewati satu bulan ini dengan hati tenang dan pikiran yang jernih (sebagian besar waktu). Meskipun besok gue ada ulangan yang butuh banyak hafalan, gue memutuskan untuk menunda belajar dengan mengetik sesuka hati di blog ini.


Hari ini gue mau mengakui keberadaan kaum pesimistik, dan meneliti cara mereka menanggapi berbagai hal. Karena kebetulan, menurut pengalaman hidup dan keputusan-keputusan yang sudah gue tetapi selama hidup, gue termasuk orang yang pesimis. Apa sih itu pesimis? Menurut KBBI, pesimis adalah sikap atau pandangan tidak berharapan baik (khawatir kalah, rugi, celaka, dan sebagainya); mudah putus (tipis) harapan. Jika kalian memenuhi sebagian besar syarat itu dan dapat dirasakan sikap itu dalam keseharian beraktivitas, kalian adalah orang yang pesimis. Tetapi, perasaan ini pasti bisa dialami semua orang, tidak harus yang dinamai orang yang pesimis, karena sikap ini bisa muncul pada orang yang sedang mengalami hari yang buruk, atau perselisihan, atau suatu hal atau seseorang yang membuatnya merasa buruk pada saat itu, tetapi untuk orang-orang seperti itu, bukan dinamakan sikap pesimis, hanya lah efek dari keadaan buruk yang menimpanya pada momen itu, sikap itu bersifat temporary, hanya sementara. Lalu bagaimana untuk orang-orang yang pesimis dari awal? Ada satu hal yang ingin gue luruskan terlebih dahulu, menjadi orang pesimis bukan berarti orang yang murung setiap saat, atau bersikap dingin pada semua orang, jutek, bahkan berpikiran negatif, menurut gue sifat ini hanya berlaku pada proses pembuatan keputusan, selebihnya memang karakter orang tersebut yang mereka bawa sejak lahir. Tapi sikap pesimistik tidak dibawa dari lahir, melainkan adanya faktor-faktor yang mempengaruhinya sejalannya hidup, dan faktornya bisa apa saja. Bisa saja keadaan traumatis yang melibatkan pembuatan keputusan, mencontoh orang tua, orang sekitar, dan banyak lagi.


Seringkali gue berpikir akan berbagai hal dari A-Z yang hanya memakan energi otak saja, tetapi karena ketakutan dan kekhawatiran yang sudah gue terapkan dalam diri lah yang membuat gue tetap melakukannya. Hal ini pernah terjadi pada sebuah jaket yang ingin gue beli, ada dua jaket yang lumayan mirip designnya di dua toko yang berbeda, gue menghabiskan 1 jam gue untuk bolak-balik mengunjungi toko-toko ini untuk membandingkan jaket-jaket tersebut, dan setelah memilih gue harus memberi tahu bahwa sampai sekarang, itu adalah jaket favorit gue. Tapi masih banyak barang atau keputusan akan hal lain yang belum menuju keputusan final gue, karena apa? Gue belum puas akan hasil research gue. Tapi cukup tentang barang belanjaan gue hahahah. Poin gue sebenarnya bukan itu, maksud gue, proses ini hanya bertujuan satu yaitu, gue ingin keputusan yang gue buat di hidup ini tidak sia-sia, that it will all be worth it, bisa merasakan puas setelah pertimbangan yang banyak, dan sedihnya gue menerapkan sistem ini hampir ke setiap hal di hidup gue, yang menurut gue sendiri bukan lah hal yang baik untuk dicontoh. Sepertinya, gue melewatkan sesuatu yang membuat gue merasa buruk karena kecerobohan gue sendiri, dan secara tidak sadar ingin menyembuhkan luka itu dan memperbaiki keselahan gue dengan mencegah kecerobohan itu untuk terjadi lagi, tetapi sepertinya aksi gue sudah kelewatan, bahkan hal-hal kecil dapat mengkonsumsi pikiran.


Ada suatu kalimat yang menjadi pukulan keras untuk otak gue, "Kamu menjadi pesimis bukan karena kamu perfeksionis, tapi karena kamu takut menghadapi kegagalan." Jadi, selama ini gue hanya melihat dari satu sisi, bahwa menjadi orang dengan sikap seperti ini membuahkan hasil sesuai yang gue inginkan, padahal jauh dalam hati, gue merasakannya, gue orang yang takut gagal. Gue merasa, daripada gagal, dengan persiapan yang matang, pertimbangan yang cukup, kemungkinan gue gagal akan mengecil dan mengecil terus. Tentu ini kalian bisa terapkan ke sistem belajar, dengan persiapan (belajar) akan mengecilkan kemungkinan gagal (nilai yang bagus), tapi lama kelamaan gue rasa hal ini tidak bisa diterapkan ke semua aspek hidup. Cause as cliche as it sounds, life is unpredictable, you can't be prepared for everything in this world. Karena kegagalan pasti akan kita semua alami, dan gue harus belajar menerima itu dengan lapang dada, karena pada akhirnya kerja keras tak akan mengkhianati usaha.


Jadi, seberapa pun enaknya melihat hasil dari sikap pesimistik, it's good to go with the flow sometimes. Kita juga harus tahu cara menghadapi kegagalan, meskipun itu bukan rencananya dari awal. Semakin dewasanya kita, cara pemikiran kita juga akan lebih matang, begitu juga proses pembuatan keputusan, waktu pemikiran yang wajar akan cukup untuk digunakan. Jadi lah orang yang rendah hati mendapatkan keberhasilan, dan berani menghadapi kekalahan. Asek, okay that's all.


r.k



Comments


UPDATES, POSTS, & NEWS

SIGN UP FOR ALL

  • Instagram
  • Twitter
  • Spotify
  • SoundCloud

© 2022 by rekakata.

bottom of page