The Fearless Act of Freedom of Speech, The Responsibilities of Netizens w/ Women's Matter (Bhs. Ind)
- pereka

- Sep 5, 2020
- 3 min read

**TRANSKRIPNYA BAHASA INDONESIA**
Here I am, writing again. A topic has recently fired up on several social medias that focuses on social justice, and don't get me wrong, I wanted to rant about this very much. But I've decided to say my peace through my blog with the help from a friend of mine that I have become acquainted for a short time named Audrey from Women's Matter. Women's Matter (@womensmatter) is a new platform on Instagram that shares women-related topics and issues. The mission and vision are beautifully put and well meant and I suggest you follow the account before you continue.
This is the case:

Update: She has apologised for her words and behaviour, I do not encourage you to read the whole thing, I'm only sharing this photo so you can understand the context. Let's be wise.
I reached out to Audrey to discuss this photo and the freedom of speech in general, and thankfully she agreed. This is the transcript of our conversation that I have organised and shortened so you understand the main idea and the flow of the conversation. I've translated the conversation to Bahasa so it will be easier to understand and brings attention a wider range of readers.
1. Menurutmu freedom of speech itu apa?
A : Menurut aku freedom of speech itu dimana setiap orang bisa dengan bebas berpendapat/beropini sesuai dengan pikirannya tanpa ada pengaruh dari orang lain.
O :Tapi kamu setuju bahwa freedom of speech memiliki batasan yang harus dipatuhi? Sbenernya dia ga melanggar pasal apapun, tapi gimana ya...gaada rasa empatinya gitu hahah.
A : Well, emang bener sih dia gak melanggar pasal apapun dan itu hak dia untuk berpendapat, tapi kan berdasarkan norma di masyarakat pendapat dia itu merendahkan orang lain dan itu yang sebenernya gak boleh kita lakukan. Aku setuju bahwa berpendapat masih ada batasannya (norma dan moral masyarakat) dan kita harus mengikuti itu, karena berpendapat apapun sah-sah aja asal tidak menjurus ke hate-speech.
2. Menurutmu orang-orang yang mengkampanyekan “self-love” ditaruh di standar yang tidak realistis oleh netizen (berharap “influencer” ini selalu sempurna, selalu memberi image yang baik dan bijak) atau masih tergolong realistis?
A : In my opinion, netizen menaruh standar yang terlalu tinggi kepada para ‘influencer’, dalam contoh revina di gambar tadi. ‘Influencer’ gak selalu harus tampil sempurna atau memiliki pendapat yang sempurna yang memuaskan opini publik. Tetapi ada batasan di mana tidak semua hal harus diungkapkan kepada publik, dengan kebebasan berpendapat bukan berarti ‘hate-speech’ bisa dibenarkan.
O : Bagaimanapun juga kita tidak bisa ekspektasi terlalu tinggi terhadap orang2 influencer/motivator (public figure). People gossip, people hate, it’s human nature, but there are some things that you rather keep to yourself, especially if it’s NEGATIVE and/or UNHELPFUL.
A : Iya, setuju banget sama yang ini. Dia bahkan punya tanggung jawab dan kemampuan untuk menggiring opini publik untuk setuju sama pendapat dia. Sangat disayangkan saat dia malah menggunakan hak dia untuk berpendapat yang negatif.
3. Apakah dengan berkata “mind your own business” atau “sosmed gue, opini gue” menjustifikasi hate-crime?
A : Walaupun itu sosmed milik pribadi, tindakan yang menghina atau menjatuhkan orang lain itu tidak dapat dibenarkan dari segi apapun.
O : Menurutku "mind your own business" adalah konsep yang bagus tapi untuk apa yang orang pikirkan tentang kita sebagai pribadi, don't you think?
A : Ohh iya, menurutku juga bagus konsep itu untuk orang-orang yg terlalu ngurusin hidup orang lain.
4. Apa yang kamu harapkan ke depannya mindset orang2 terhadap kebebasan berpendapat?
A : Kedepannya diharapkan orang-orang bisa lebih berpendapat dengan bijak tanpa menjatuhkan dan merugikan orang lain.
O : Meskipun insult itu ga menuju kita secara pribadi, apakah caci makiannya bisa memberi efek yang buruk yang mendalam bagi orang lain?
A : Bisa, meskipun gak directly buat kitaa tapi bisa aja ada orang yg merasa tersindir, dengan Revina insult seperti itu dia bisa membuat orang lain merasa insecure dan gak percaya diri apalagi dengan status dia sebagai public figure.
End.
Insecurity, weak mentality, and toxic positivity is a whole other issue that I will bring up later on. Benar bahwa insecurity itu memang datang dari diri kita masing-masing, tapi sebagai public figure yang menyuarakan hal-hal positif, seharusnya tidak menambah beban pikiran followersnya dengan hal-hal yang buruk. People follow you, people look up to you. Ini juga berlaku buat teman-teman semua, tidak hanya public figure. Freedom of speech adalah hal yang indah sekaligus berbahaya jika jatuh di tangan orang yang salah. Opini yang kamu sebarkan di publik itu berarti, dan sebaiknya kamu gunakan kemampuan itu dengan bijak. Don't settle down to her level and follow the trail of negativity, improve your own behaviour on social media, inspire people through your own platform, rise above it, dengan begitu kamu membantu/mempengaruhi orang lain untuk berpikir dan bertutur kata dengan bijaksana juga (:
-r.k.



Comments