THE DEFINITION OF BETTER
- pereka

- Apr 10, 2019
- 3 min read
Updated: Apr 30, 2020
Kita pasti sering mendengar kata-kata ini,
"Pasti ada yang lebih baik nanti."
Entah itu berhubungan dengan pekerjaan, pasangan, atau keadaan hidup lu sekarang. Kata-kata itu biasanya bertujuan membuat lu merasa masa depan lu aman atau tidak perlu khawatir. Rasa aman dan yakin itu perlu, sebagai dorongan awal lu menghadapi berbagai macam situasi, prestasi dan pengalaman juga membantu lu membangun rasa percaya diri lu bersosialisasi dengan orang, ada sense of self yang lu sendiri suka dari diri sendiri dan bangga lu tunjukkan. Could be your looks, your achievements, your talents, or your hard work, apapun itu tidak ada salahnya lu banggakan. Tapi kembali lagi ke kata-kata "lebih baik", apa sih definisi yang paling benar? Standar apa sih yang sebenarnya ingin dicapai? Lagi-lagi gue mau kasih tau, cita-cita orang itu berbeda-beda, tujuan orang hidup itu berbeda dan berwarna. "Lebih baik" versi lu itu tidak sama dengan "lebih baik" versi gue.
Gue ambil contoh soal kuliah (karena bentar lagi mau kuliah, heheh), kalau lu terinspirasi mengambil pendidikan di luar negeri, hal itu akan tertanam dalam diri, sadar tidak sadar, bahwa tujuan utama lu adalah mengambil pendidikan di luar negeri, pendidikan di luar negeri adalah definisi "lebih baik" buat lu, tapi belum tentu buat gue atau orang lain. Ada juga orang yang berada dalam keluarga yang dari generasi ke generasi kuliah di universitas A atau universitas lokal, dan orang-orang ini pun memotivasikan lu untuk pergi ke universitas lokal saja, lu diberi tahu keseruannya, tantangannya, keunggulan universitas-universitas itu dan pada akhirnya, lu tertarik mengambil lokal. Ide itu tertanam di dalam otak lu, bahwa tujuan utama lu adalah pergi ke universitas lokal, universitas lokal adalah definisi "lebih baik" buat lu. Jadi jika dua orang itu diminta berpendapat tentang universitas manakah yang lebih baik? Mereka pasti akan berbeda pendapat, pasti.
Kenapa? Karena masing-masing dari mereka mendapatkan pengetahuan dan inspirasi yang berbeda-beda.
Inspirasi tidak hanya datang dari diri sendiri, tapi bisa juga dari pengaruh orang lain, terutama orang-orang terdekat. Semua orang pasti ingin menjadi versi diri sendiri yang "lebih baik", tapi mereka ingin mencapai tujuan hidup mereka yang "lebih baik" menurut mereka, bukan menurut gue, bukan menurut lu, tapi menurut mereka masing-masing. Jadi jangan merendahkan tujuan hidup orang lain hanya karena berbeda dengan kita, apalagi menyinggung perasaan mereka. Apalagi, mencoba mengubahnya. Gue tidak bilang tidak ada orang yang berakhir buruk karena mereka membuat keputusan mereka sendiri tanpa arah, ada. Ada beberapa standar yang memang harus dipenuhi jika lu mau hidup bersosialisasi di sekitar orang, itu namanya bermasyarakat. Kalau mau berprinsip sendiri, membuat peraturan sendiri, dan bersikap semuanya, lu tinggal aja di pulau terpencil, sendiri. Memang semua orang butuh dituntun, diberi motivasi, inspirasi, saran, dan lain-lain yang bisa membantu menjadi maju. Itu sebabnya kita selalu diajarkan untuk bercita-cita besar, atau mempunyai mimpi dikejar sungguh-sungguh, atau bisa juga dengan diberikan hal-hal yang menyenangkan di hidup, yang akhirnya memotivasikan kita untuk mencapai itu dengan kerja keras kita sendiri nanti di masa depan. Tapi yang gue maksud adalah, mengubah tujuan orang lain dengan paksa, karena apa? Karena visi dia tidak sama dengan visi kita. Itu salah besar. Kita tidak bisa menutut harapan kita untuk orang lain, itu hanya akan membuat dia rusak secara emosional, atau bahkan di perilakunya akan terlihat (malas, memberontak, membantah, mencari onar, dan lain-lain). Kalaupun tujuan orang tersebut terlihat tidak benar arahnya, dibicarakan dengan alasan, sebab-penyebab, dan perhatian yang besar, karena lu membahas masa depan orang lain, dan kita tidak tahu seberapa besar dampak perkataan kita pada orang tersebut. Dibicarakan secara wajar dan bukan paksa. Karena setiap orang yang ingin mendapatkan sesuatu pasti ada alasannya, mungkin memang cita-cita, mungkin di mata dia hal ini sangat ia sukai dan hargai, paling tidak di bawah perasaan ketidaksetujuan kita, kita harus hargai perasaan orang itu. Jika dia tidak setuju dengan omongan kita, dengarkan alasannya, alasan kenapa dia memilih (memilih ya, bukan terpaksa) berada di situasi itu. Dan jika alasan itu bisa kita toleransi dengan jalannya hidup kita dengan orang tersebut (entah teman kita, saudara, bahkan pacar) maka biarkanlah, asal masih dalam batas wajar. Kita pasti mau yang terbaik buat orang-orang yang kita sayangi, jangan ada yang berakhir sedih, atau kecewa, atau sengsara di situasi orang-orang ini, kita ingin yang terbaik untuk mereka dari berbagai aspek kehidupan, tapi kita juga harus ingat yang menjalankannya bukan kita, tapi mereka, dan jika mereka bahagia menjalankannya, so be it. Accept it, adapt with, and appreciate it, karena itu adalah hasil mereka masing-masing yang "lebih baik".

Dan jangan lupa untuk fokus ke versi "lebih baik" diri sendiri.
r.k



Comments