GIRLS, GIRLS, GIRLS #JusticeforAudrey
- pereka

- Apr 10, 2019
- 3 min read
Updated: Apr 30, 2020

Ada kasus belakangan ini (di Indonesia) tentang seorang remaja (wanita) jenjang SMP yang dibully kakak kelasnya di jenjang SMA, hashtagnya sudah menyebar ke mana-mana, dikenal dengan #JusticeforAudrey. Pertanyaan gue, kapan ini berhenti? Sepertinya makin hari makin parah, makin menjadi-jadi. Gue terus mencoba mencari sebab penyebab bisa terjadinya kasus ini, apakah mungkin Audrey bertindak kurang sopan kepada mereka (kakak kelas)? Apakah sang senior melakukan ini agar booming saja? Apakah agar terkenal di sosial media?
Pertama-tama, ada banyak yang salah di pertanyaan-pertanyaan ini. Gue cuman ingin bilang, kalau gue jadi lu, dan gue punya adik kelas dan dia bersikap tidak sopan, gue cari tau dulu penyebabnya apa. Mungkin saja gue sebagai senior kasar, mungkin saja gue memperlakukan dia sebagai adik kelas dengan tidak benar dan tidak merasa bersalah atau meminta maaf pada akhirnya yang menimbulkan dendam, atau mungkin saja dia hanya mencari masalah karena kurangnya perhatian dari keluarga. Tapi semua itu adalah sebab yang harus kita cari tau sebelum bertindak apapun.
Kedua, jika memang dia berlaku tidak sopan, kita tidak punya hak, gue ulangi, kita tidak mempunyai hak apapun untuk menyakiti secara fisik ataupun verbal terhadap dia, bahasa kasarnya, kita sama aja sikapnya dengan dia, tidak sopan dan kurang ajar, dan percaya sama gue, itu bukan image yang bagus di mata siapapun. Gue tau rasanya menguasai, rasa senioritas itu pasti ada, tapi rasa itu ada antara kita mempunyai dendam pada kakak kelas kita yang dulu, atau cara kita ngeboost percaya diri kita itu dengan bisa mengkontrol seseorang. Siapapun yang memulai kesenioritasan ini tidak mungkin kita ketahui, ini sudah kita alami dan kita jalani sebagai siswa, tapi gue ingin bilang, rasa senioritas itu ada karena kita membiarkannya ada. Kita membiarkannya terjadi lagi dan lagi dan lagi, dari generasi ke generasi. Percaya sama gue, rasa puas yang seperti itu tidak akan bertahan lama, karena hanya berbasis nafsu perhatian dan omong kosong, kalau lu ngomongin puas akan talenta, prestasi, atau nilai yang bagus, itu kepuasan yang berbobot. Kalau lu mau bilang tidak sopan kepada kakak kelas itu salah, ya memang benar, tidak sopan kepada orang yang lebih tua atau lebih berpengalaman memang bukan hal yang baik ditiru sama sekali. Tapi ada banyak cara lain untuk mengubah itu, ada banyak cara lain yang saling menguatkan, positif, dan ramah untuk hal-hal seperti itu, jika sikap mereka (adik kelas) masih bisa kita handle sendiri, mencoba cara-cara ini tidak ada salahnya. Ya memang, yang pertama mulai gerakan positif ini pasti akan terlihat lucu atau lemah, tapi percaya, sedikit demi sedikit, dengan bantuan orang-orang yang mau berubah, senioritas yang bersifat "menjajah" ini bisa benar-benar dihapuskan.
Ketiga, mencari kekerasan untuk ketenaran. Sebenarnya ini topik yang lain kali gue ingin bahas, tapi gue akan bahas singkat di post ini. Gosip, rumor, dan hoax memang santapan manusia sehari-hari, gue kurang tau, esensi hal-hal seperti ini bisa membuat manusia (terutama remaja) tertarik dibanding berita. Jujur, gue juga bukan penonton berita yang rutin, bahkan kadang gue malas. Tapi gue berusaha mempunyai pandangan yang netral dalam hal ini, dan berusaha menghindari membicarakan gosip dan kawan-kawannya. Biasanya, gosip dan rumor ini berisi hal-hal yang buruk dan memprihatinkan, dan membuat kita memberi simpati dan menjadi topik obrolan kantin, ya, gue mengalami meja gosip itu. Tapi apakah topik berita sebegitu membosankannya? Apakah topik-topik yang bisa membangun ide-ide positif ini tidak sebegitu menariknya? Sebenarnya, semua ini hanya kita yang bisa mulai. Balik lagi ke topik awal, dengan gambaran gosip menurut gue, kemungkinan yang terjadi adalah, remaja itu sudah termakan oleh sebuah asumsi bahwa, aksi yang buruk lah yang paling mendapat perhatian. Tidak salah, dengan dunia sosmed, terbuka sudah seluk beluk perlakuan manusia pada satu sama lain dan dengan mudah dishare dengan satu klik. Tapi gue tanya deh, apakah itu jenis perhatian yang lu cari? Respon negatif itukah yang lu cari selama ini? Sekali lagi, tidak salah, berita-berita buruk ini memang lebih mudah menangkap perhatian orang-orang, tapi mudah bukan berarti baik hasilnya. Mungkin saja, berita ini akan terlekat di nama lu untuk waktu yang cukup lama, apa ini respon yang lu idam-idamkan? Gue tau mendapat perhatian yang positif yang diinspirasikan orang-orang itu butuh kerja keras, tapi hasil itu akan lebih berharga lagi dan lebih membahagiakan di akhirnya. Salurkan ambisi itu ke jalan yang positif. Ambisi untuk didengar, diperhatikan, dan dipuja, dipakai ke hal-hal yang positif.
Jadi teruntuk Audrey, kamu harus bisa menegakkan ini, remaja di berbagai Indonesia sudah mendengarmu dan mendukungmu, membalas segala hal dengan rasional dan dengan hati pikiran yang jernih. Dibully memang tidak pernah menyenangkan, bahkan beberapa korban menjadi terluka, tapi bahkan sebagai korban, kita tidak berhak menyakiti balik pelaku, tapi ditegakkan dengan benar dan membiarkan mereka diberlakukan sesuai dengan hukum. Teruntuk sang senior, gue ga benci sama pelaku-pelaku ini, lebih ke prihatin dan ingin membantu. Membantu meluruskan pikiran dan logika mereka, bahwa hal-hal seperti ini tidak pantas dilakukan, dan bukan hal untuk dirayakan dengan boomerang di Instagram saat berada di kantor polisi. Setiap orang punya potensi kok, tinggal kita memilih jalurnya, dan gue harap pelaku diperlakukan adil. Semua akan menyesal di akhir.
r.k



Comments